Angkot Penuh Celurit
Sekian Mei 2011 ....
Pernah ga kalian satu angkot sama sekumpulan pelajar yang membawa alat kebun dan beberapa peralatan dapur? Ya gua pernah, dan gua akan berbagi pengalaman antara hidup dan mati tersebut.
"Rasanya gimana?"
Rasanya kayak elo lagi naik angkot terus dipenuhi sekumpulan pelajar yang membawa alat kebun dan alat dapur, gitu aja repot!.
Apes memang, di saat gua gak motor dengan alasan yang non formal (ban bocor) dengan maksud mencari tebengan dan ngepetnya teman yang biasa jadi kang ojek gua juga gak bawa motor.
Dengan sangat hormat naiklah kami berdua dengan harapan akan sampai di rumah menemui orang tua, adik, kakak masing-masing dan menjalani kehidupan normal layaknya orang normal lainnya.
Namun na'as saat perjalanan ada sekelompok pelajar terdidik memaksa memberhentikan angkot yang tak berdaya yang kami tumpangi.
Naiklah mereka dengan tertib, lalu duduk di tempat yang sudah di sediakan supir. Dengan wajah sinis mereka saling lirik-lirikan membisikan sepatah dua kata, mungkin saja ada adegan penembakan "I love you" di dalam angkot. Atau mungkin akan ada adegan pemerkosaan di angkot. Entalah gua harap diantara mereka gak ada yang homo.
Lalu mereka mengeluarkan alat yang gua tau itu adalah celurit, golok, samurai yang mereka namai SM (asal lo tau samurai itu orangnya, dan katana itu pedangnya) dari dalam tas, jaket, dan selipan kaos kaki bergambar pokemon, sambil melirik mesra ke arah gua dan teman gua bernama Taufik Sunedi.
Lalu mereka berbisik-bisik lagi sambil memandang ke arah kami, yang gua dengar ada kata "yadika tuh yadika".
Hati sedikit lega, karena gua memakai baju kotak-kotak khas Yadika, yang gua tau Yadika gak pernah ada masalah dengan sekumpulan pelajar yang ingin berkebun dan memasak tersebut. Dan faktor penyelamat lainnya adalah tampang gua yang seperti anak baik-baik, yang pulang sekolah langsung pulang.
Perasaan gua saat itu hanya ingin turun dari angkot, naik ojek kerumah dan sujud syukur karena selamat dari maut. Tapi sayang posisi duduk dan jarak duduk yang agak jauh menyusahkan kami untuk berdiskusi.
Menit-permenit berlalu, hingga akhirnya tiba di bulak kapal tempat tujuan kami turun, saat ada niatan turun, untungnya para pelajar yang ingin melakukan demo masak turun terlebih dahulu.
Alhamdulilah, Puji Tuhan akhirnya gua bisa turun dengan selamat, sebagai ungkapan syukur gua, gua membayar angkot itu dengan uang 5rb tanpa gua minta kembalian.
Hingga sekarang cerita ini, sudah menyebar di kalangan anak nongkrong balkon sekolah, hanya sedikit yang tahu. Dan mungkin cerita ini dapat gua ceritakan ulang ke istri dan anak-anak gua nantinya :)
Published with Blogger-droid v2.0.4
07.12
|
Label:
Stories
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Dilindungi Oleh Unang. Diberdayakan oleh Blogger.

0 komentar:
Posting Komentar