Cerita Fiksi, Judulnya "Berduka"
Ceritanya gua lagi lebay, langsung aja dibaca broh...
Asal engkau tau diriku tiap hari berduka, namun dukaku tak kutunjukan pada siapaun, aku berduka dalam kesendirianku, dalam perasianganku ku rasakan damai, luapan emosiku melayang bagaikan burung yang bebas, alam sadarku menyatu dalam embun saat fajar tiba, disaat itu kumerasakan kenikmatan dari kesepianku, bibirku menari tatkala penari handal, tanganku menggenggam seperti ayah yang menyesali 'kegagalan'nya, teriakanku bagai auman singa hutan yang lapar, itulah dukaku, duka teramat yang kubuat sehingga kumerasa aku orang yang berharap belas kasih.
"Aku tak butuh belas kasian, belas kasih hanya teruntukan mereka yang lemah, dan aku tetap kuat dalam dukaku."
Untuk apa menuangkan kesedihan, jika hanya membuatmu lemah, rancangan Tuhan tidak pernah dan tidak lunak, kuat bagai besi baja, kesedihanmu melatihnya menjadi tak berdaya.
Engkau bagai anak burung camar yang lemah dan tak berdaya, tidak berlatih untuk terbang, namun bangga dengan sifat manja. Lalu induk camar tersenyum dalam kepalsuan, senyum yang tidak melahirkan kesinggungan keharmonisan antara anak dan induk, dibalik senyum manis camar sebenarnya hanyalah seutas 'senyum hina', menghina akan kebodohan anaknya, kemanjaan dan kelunakan sifatnya. Setelah sang induk muak dengan sifat anaknya, kemarahan sang induk meluap "jadilah kuat kau si lemah!, terbanglah!, dan bawakan adikmu sesuatu untuk dilahap", anak camar berusaha sekuat tenaganya, mengibarkan sayap, terbang mengudara dan menjadi kuat.
Sesungguhnya jiwa manusia ini adalah sebagaimana kehendak Tuhan, jasad terlahir dalam keadaan utuh, tidak seperti manusia yang 'tidak beruntung', takdir yang membuatnya lemah, kekurangan dalam fisiknya lah yang menjadikannya lunak. Namun apakah kau melihat duka di matanya? tentu tidak, tidak ada anggapan dalam benaknya 'produk gagal Tuhan', mereka meyakini kehendak sang Kuasa, jiwa mereka kuat, semangatnya berkobar bagaikan dewa, tidak ada duka dalam hidupnya, begitulah ia menghadapi hidup, bermandikan kesyukuran dari pencipta, beralaskan amal terhadap sesama manusia.
Ditulis oleh Muhamad Rayhan Dillah
November 17, 2012
07.16
|
Label:
Stories
|

2 komentar:
ya allah , lu nulis kyak gini han ? kayak bencong aja lu
namanya juga fiksi -__-
Posting Komentar