Desember 1994 hingga sekarang

Kali ini tulisan ini yang ini gak ada guyonan atau candaan seperti biasanya, kali ini tulisan ini yang ini bukan yang itu tapi yang ini, ia yang ini akan serius sedikit. Jangan BT bacanya ya! Walaupun gue juga bt nulisnya, enjoy aja siapkan tisu karena sehabis mebaca ini anda akan ngecrott *eh nangis, oke lebay, dari pada kebayakan basa basi silahkan membaca tulisan yang ini bukan yang itu tapi yang ini, ia yang ini. Selamat membaca :)


Desember 01, 1994.
Gue lahir pada tanggal 01 desember 1994 di rumah sakit ternama pada zamannya yakini rumah sakit Islam Jakarta Timur.
Lahir dari perut seorang ibu yang kuat dan seorang ayah yang selalu sabar menemani persalinan isterinya, dan sifat sabar bokap masih terjaga sampai sekarang.

Gue punya abang, namanya Fajar, gue dan abang gue hanya selisih setahun lebih.
Kedua orang tua gue selalu sabar dan ihklas merawat kami.

Saat gue kecil, kami sekeluarga tinggal di kontrakan yang disewa tiap bulannya, disuatu gang di kawasan Kalender Jakarta Timur, disaat itu waktu yang paling gue dan abang gue tunggu adalah jam pulang bokap dari kantornya, terlihat jelas keletihan diwajah bokap setelah capek banting tulang untuk membiayai kehidupan keluarga kamiraut letih bokap hilang ketika melihat kedua anaknya menyambut kehadirannya di depan pintu kontrakan kami, kebahagian yang tak dapat dibayar oleh sepeser uang bahkan miliaran uang, yaitu keharmonisan keluarga.

Sejak tahun 1998 bokap gue membeli rumah dengan cara menyicilnya, perumahan sederhana di Bekasi Timur,
rumah sederhana yang kini kami huni, rumah yang selalu menjadi tempat teduh ketika panas matahari, dan menjadi tempat teduh ketika hujan tiba.
Pada tahun 2000 bulan febuari adek gue lahir dipersalinan di perumnas3. "Muhammad Minzard Dillah", nama yang diberikan bokap gue, hingga kini gue selalu sayang sama adek gue.

Saat kami sudah mulai tinggal di rumah baru, kedua orang tua gue mensekolahi abang gue di Taman kanak-kanak yang jaraknya lumayan jauh dari rumah untuk ukuran anak kecil, disaat itu gue selalu ikut dengan nyokap anter jemput abang gue di Tknya, ingin rasanya gue cepet-cepet Tk pada saat itu.
Disusul oleh gue satu tahun berikutnya di Tk yang berbeda. Tk yang jaraknya lebih dekat daripada Tk abang gue.
Hari pertama gue Tk, memakai seragam hijau putih lengan panjang, gue terlihat gagah waktu itu, senyum dibibir nyokap gue senyum kebanggan disusul oleh air mata kebahagiannya, pada waktu itu gue di antar nyokap menuju sekolah pertama gue dan ditunggu sampai pulang. Sama dengan anak-anak Tk lainnya diantar dan ditunggu sampai pulang.

Dirumah itu gue kenal dengan sepasang adik-abang yang tinggal di depan rumah gue, sepasang adik-abang bermata sipit yang gue yakini dia adalah keturunan cina, saking lampaunya gue lupa nama mereka.
Dulu gue sering bermain di rumahnya, bermain permainan anak kecil pada umurnya. Gue ingat saat itu dia memiliki kolom renang dalam rumah, kolom renang yang bisa di pompa dan di isi air di dalamnya.
Tak lama mereka pindah tinggal ke luar negeri, yang gue tau mungkin di Cina.

Teman di perumahan gue ada banyak, lelaki mau pun perempuan, dan dari 2 rumah sebelah kiri rumah gue ada seorang teman bernama Dhedia, anak dari seorang dokter yang mebuka praktek di rumahnya, gue sering main kerumahnya begitupun sebaliknya, dia juga sempat pindah rumah di perumahan yang sama, rumah yang lebih bagus dari sebelumnya cuman jaraknya agak jauh dari rumah gue. Dan sekarang dia pindah ke Jakarta.

Agak jalan ke sebelah kiri ada rumah Affan, atau biasa gue panggil Apan', seorang teman lelaki yang memilki gigi maju nan serupa pemain sepak bola Ronaldinho, dia adalah anak yang memiliki Playstasion1 di perumahan gue, gue dan teman-teman lainnya sering menghabiskan waktu di rumah Apan bermain game Nascar Rumble, Smackdown, Winning, dll. Dan sekarang dia juga pindah ke perumahan elite di Bekasi Barat, Apan ini lebih akrab ke abang gue dari pada ke gue, mungkin karena umurnya sejajar dengan abang gue.

Lalu lurus belok ke kiri, ada seorang teman bernama lelaki Mario, saat dulu gue sering main bola setiap sorenya dengan teman-teman gue, yang gue hafal betul Mario paling senang pada posisi menyerang. Semua orang senang jika satu team dengan dia, memang dia yang paling jago dalam mengola bola bundar itu.
Dan sekarang gue masih sering main dengan dia, bukan permainan anak-anak, tetapi permainan Pria dewasa, permainan game online "DotA".

Dan di belakang rumah Mario ada teman wanita bernama Oky, gak banyak yang gue tau tentang dia, orangnya jarang keluar rumah, kecuali jika ada event 17 Agustus dan event lainnya. Tak sering gue mengakrabkan diri dengan dia, hanya sekedar senyum saat berpaspasan. Kini dia telah menjadi wanita remaja, sama seperti gue, cuman gue pria yah!.

Sekarang di sebelah kanan, ada teman lelaki bernama ka Bimo, kenapa pake 'ka?' Karena dia yang paling tua di antara kami, yang paling gue ingat tentang si ka Bimo ini dia memiliki drum dan piano, dia juga pandai memainkannya. Gue dan teman lainnya sering main kekamarnya, kamar yang memiliki Ac dan koleksi komik banyak sekali, doraemon, sinchan, dedektif conan, dan masih banyak lagi. Ka Bimo ini orang yang paling modal diantara kami, pada saat musim Tamiya atau Hotwels dia beli tracknya untuk kami mainkan, begitu pula pada saat musim Rush Gear dan musim Bayblade, pokoknya kami terfasilitasi pada saat itu.
Dan kini yang gue tau dia pindah ke Jakarta, maybe.

Di sebelah kirinya ada teman lelaki bernama Lutfi atau biasa di panggil Upi. Upi sekolah di SD yang berseberangan dengan SD gue, sering kami bermain bersama atau sekedar jajan di kantin SD pada waktu itu. Upi juga mahir dalam perminan sepak bola, sundulan yang di arahkan dari kepalanya tak jarang meleset. Pada saat lulus SD Upi pindah ke kampungnya di Bandung, meninggalkan rumah yang di huninya menjadi tempat tinggal neneknya, sesekali Upi pulang kebekasi saat lebaran tiba, dan gue dan dia pergi sholat I'ed bersama. setelah beberapa lama di Bandung keluarganya mengabarkan bahwa Lutfi telah tiada, Almarhum meninggal karena penyakit Demam Berdarah, gue tau almarhum orangnya kuat tapi apa daya penyakit yang deritanya lebih kuat dari tubuhnya. Pada saat mendengar kejadian gue dan teman-teman lainnya bermain tanpa kehadiran Upi, yang kami yakini pada saat kami bermain kami masih bermain dan bercanda ria dengan Jiwa Upi. Selamat jalan kawan semoga lo tenang di sisinya :')

Di sebelah kirinya hampir ke pojok blok ada Daniel atau biasa dipanggil Danil, dia orangnya rada kaku tapi selalu semangat, posisi andalannya adalah jadi kiper, Danil itu sangat fans dengan kiper cadangan Chelsia yaitu Cudicini, setiap main winning di Playstasion dia selalu mengganti kiper inti Peter Cech dengan kiper cadangan idolanya Cudicini.
Dan sekarang dia sama-sama baru lulus SMA sama seperti gue.

Di paling pojok kiri blok ada teman wanita bernama Rindi, sosok Rindi ini adalah anak yang bawel, yang selalu ikut jika anak lelaki memainkan permainannya, mungkin di saat itu ada cowok yang dia taksir di antara kami, entahlah sudah lama sekali. Yang paling gue ingat tentang Rindi saat melakukan permainan Uji nyali, sisi pemberaninya tidak perlu di ragukan, dia yang paling berani di antara kami.
Kini dia telah tumbuh menjadi wanita remaja dewasa, seumuran dengan gue. Tak sering kita bertemu berpapasan, mungkin karena rumah dia paling pojok blok, yang gue tau waktu gue ke warung dan bertemu dia, dia telah menjadi wanita yang cantik.

Sekarang ke depanan dari rumah gue, ada teman lelaki gendut bernama Jhon Hariyanto atau biasa di panggil Jojon'. Dia yang paling dekat dari rumah gue sekarang. Dulu gue dan teman-teman lainnya sering main kerumah dia, masuk ke ruang karoke nonton film action bahkan horror. Yang paling kami malas saat kerumahnya kakak perempun Jojon ini memelihara Anjing, seperti anjing pudel cuman berbulu dan diberi nama tengteng, gue ingat kejadian waktu tengteng lepas dari pengawasan kakanya Jojon, kami semua di kejar, ada yang berlarian ke Wc, gudang, dapur, sedangkan gue lari ke lantai atas ke kamar pembantunya Jojon, hingga keadaan aman kami kembali ke tempat kami semula sebelum di kejar tengteng. Jojon pun kini masih menetap di rumahnya sampai sekarang.

Itulah bebrapa teman-teman komplek gue, sebenarnya masih banyak cuman gitu datang pindah datang pindah, entah kenapa banyak teman gue yang pindah, selama gue menetap di sini aman dan nyaman saja.

*tulisan berikutnya tentang teman di sekolah, di tunggu ya.

0 komentar:

Posting Komentar

Dilindungi Oleh Unang. Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger news